Masjid Gedhe Kauman, Wista Religi di Kraton Yogyakarta Masjid Gedhe Kauman, Wista Religi di Kraton Yogyakarta
Sebagai Kota Pendidikan dan Kota Budaya, Jogja memiliki ragam bangunan yang menjadi bukti otentik sejarah masa lalu yang masih terawat dengan baik hingga sekarang.... Masjid Gedhe Kauman, Wista Religi di Kraton Yogyakarta

Sebagai Kota Pendidikan dan Kota Budaya, Jogja memiliki ragam bangunan yang menjadi bukti otentik sejarah masa lalu yang masih terawat dengan baik hingga sekarang. Salah satunya adalah Masjid Gedhe Kauman yang menjadi saksi bisu bahwa Jogja pernah menjadi pusat penyebaran agama Islam di tanah jawa khususnya.

Masjid Gedhe Kauman juga memiliki nama lain yaitu Masjid Kagungan Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serta dibangun pada masa awal pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755 dan selesai pada hari Ahad, 29 Mei 1773.

Selain sebagai pusat kegiatan keagamaan Kesultanan Jogja, pembangunan Masjid Gedhe Kauman juga bertujuan sebagai poros dari kelima masjid pathok negara yang dibangun di keempat penjuru mata angin dimana keempat masjid poros tersebut juga berfungsi sebagai pal batas terluar dari wilayah Kasultanan Yogyakarta. Kelima masjid pathok tersebut ialah sebagai berikut :

  1. Masjid Mlangi atau Masjid An Nur di penjuru kulon
  2. Masjid Plosokuning atau Masjid Sulthoni di penjuru lor
  3. Masjid Babadan atau Masjid Ad-Darodjatun di penjuru wetan
  4. Masjid Wonokromo atau Masjid At-Taqwa di penjuru kidul

Masjid yang juga banyak disebut sebgai Masjid Agung Jogja ini telah menjadi Cagar Budaya Nasional tersebut termasuk dalam sekian dari masjid tertua di jawa setelah Masjid Agung Bintoro Demak dan Masjid Menara Kudus dimana keduanya dibangun pada masa Kesultanan Demak Bintoro oleh para Walisongo sebagai pusat penyebaran agama islam di tanah jawa. Di masjid yang menjadi scene dari film “Sang Pencerah” ini pulalah lahir dan tumbuh Organisasi Islam Muhamadiyah hingga sekarang.

Corak Arsitektur yang Penuh Makna

Masjid Gedhe Kauman yang berlokasi di komplek Keraton Jogja ini dirancang oleh Kiai Wiryokusumo atas penunjukan langsung Sri Sultan Hamengku Buwono I. Paham betul bahwa Masjid Gedhe Kauman merupakan bagian dari Keraton Jogja, maka Kiai Wiryokusumo membangun masjid dengan penuh filosofi jawa yang sarat makna.

Hal ini dibuktikan dengan bentuk atap tajug Masjid Gedhe Kauman yang bertumpang tiga sebagai manifestasi dari tahap laku spiritual kaum sufi untuk mencapai maqom sempurna yaitu Syariat, Makrifat, dan Hakikat. Keunikan lainnya dari Masjid Gedhe Kauman terletak pada dinding masjid yang terbuat dari tatanan batu kali berwarna putih yang konon pada saat pembangunannya tidak menggunakan unsur perekat apapun seperti semen dan sejenisnya.

Bagian saka Masjid Gedhe Kauman juga memiliki nilai seni, sejarah, serta teknik arsitektur yang mumpuni. Bagaimana tidak, saka yang digunakan sebagai penopang utama atap masjid tersebut terbuat dari Sebatang Kayu Jati berukuran cukup besar yang telah berusia 200 tahun lebih dan masih berdiri kokoh hingga kini.

Sementara di sisi kiri tepat di belakang mihrab masjid, terdapat sekat kayu jati berukir yang membentuk bujur sangkar dan dinamakan Maksura, yaitu tempat khusus sekaligus sebagai pelindung bagi Sultan ketika mendirikan sholat berjamaah di Masjid Gedhe Kauman. Ada pula ruangan khusus bagi para jamaah wanita yang dinamai Pawestren, serta area peristirahatan ulama pengurus Masjid Gedhe Kauman yang disebut dengan Yakihun.

masjid gedhe kauman

Penambahan Bagunan dan Renovasi

Seiring bertambah banyaknya masyarakat yang berjamaah, Masjid Gedhe Kauman mengalami renovasi yang pertama dengan membangun serambi dan selesai pada 20 Syawal 1189 H / 1775 M / 1701 Jawi. Selain untuk menampung jamaah yang kian bertambah, serambi yang dinamai Al Mahkamah Al Kabirah ini juga difungsikan sebagai lokasi musyawarah para ulama, pernikahan warga, hingga proses pengislaman bagi pemeluk agama islam baru.

Satu tahun kemudian dibangunlah “pagongan” di kedua sisi kanan dan kiri halaman Masjid Gedhe Kauman sebagai area penyimpanan alat – alat kesenian Gamelan Sekaten sebagai media dakwah melalui asimilasi cultural untuk menjangkau masyarakat yang masih dominan beragama Hindu saat itu. Pagongan sendiri berasal dari kata Pa yang berarti tempat, serta Gong yaitu salah satu alat musik gamelan khas jawa.

Kemudian di tahun 1840 juga dibangun “Regol” yaitu semacam pintu gerbang sebagai tanda memasuki Masjid Gedhe Kauman yang dinamakan “Gapuro” dan selesai pada hari Senin 23 Syuro 1255 H / 1867 M / 1767 jawi. Pemberian nama “Gapuro” yang berasal dari serapan bahasa arab “Ghofuro” dan bermakna ampunan ini dimaksudkan ketika orang berniat memasuki masjid, maka mudah – mudahan mendapat ampunan dari Allah Swt.

Renovasi besar – besaran Masjid Gedhe Kauman terjadi setelah bencana gempa bumi dasyat yang mengguncang Jogja pada tahun 1867 yang meruntuhkan serambi masjid serta merenggut banyak korban jiwa. Oleh karenanya, Sultan VI yang menjabat kala itu memerintahkan untuk membangun kembali serambi Masjid Gedhe Kauman dan hasilnya adalah serambi masjid kini yang 2x lebih luas dari serambi pertama sebelum terjadinya gempa bumi.

Lalu di tahun 1917, di dirikanlah Pajagan atau Balemangu di kedua sisi kanan kiri Gapuro Masjid Gedhe Kauman sebagai lokasi penjagaan para prajurit keraton mengingat pada masa tersebut sering terjadi peperangan oleh pihak keraton serta masyarakat Jogja untuk merebut kemerdekaan dari Kolonial Belanda.

Selanjutnya di tahun 1933 atas prakarsa Sri Sultan hamengku Buwono VIII, digantilah lantai serambi Masjid Gedhe Kauman dari yang awalnya terbuat dari batu kali menjadi tegel kembangan yang cantik. Di tahun yang sama juga terjadi pergantian atap masjid yang semula berbahan sirap menjadi seng wiron yang lebih kuat. Masih oleh Sultan VIII, di tahun 1936 lantai dasar bangunan utama Masjid Gedhe Kauman juga diganti dari batu kali menjadi marmer yang didatangkan langsung dari Italia.

Masih banyak bangunan serta cerita bersejarah lainnya mengenai Masjid Gedhe Kauman yang tidak akan habis Kami ulas disini. Maka, agar lebih puas, sebaiknya Anda mengunjungi langsung Masjid Gedhe Kauman untuk menambah pengetahuan sejarah sekaligus wisata budaya di Kota Jogja. Selamat Berkunjung ke Masjid Gedhe Kauman ya Sobaat … !!!

 

admin-lostatrans

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *