Malioboro Jogja, Icon dan Simbol Wisata yogyakarta Malioboro Jogja, Icon dan Simbol Wisata yogyakarta
Siapa yang tidak mengenal Malioboro Jogja ? Salah satu icon pariwisata Yogyakarta ini kian menjadi tujuan wisata para pelancong baik dalam negeri maupun turis... Malioboro Jogja, Icon dan Simbol Wisata yogyakarta

Siapa yang tidak mengenal Malioboro Jogja ? Salah satu icon pariwisata Yogyakarta ini kian menjadi tujuan wisata para pelancong baik dalam negeri maupun turis mancanegara. Kawasan Malioboro Jogja yang sangat strategis yaitu diantara Tugu Jogja dan Kraton Ngayogyakarta ini pun menjadi sangat mudah untuk disambangi dari berbagai sudut Kota Jogja.

Bagi para wisatawan, Malioboro Jogja menjadi surga berbelanja untuk mencari berbagai keperluan pribadi maupun souvenir khas Jogja berupa berbagai macam jenis kerajinan dengan harga yang relatif aman di kantong. Tidak hanya itu, latar belakang sejarah terbentuknya jalan Malioboro Jogja itu sendiri juga menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk mengabadikan poto selfienya disana.

Sejarah dan Filosofi Malioboro Jogja

Awal mula terbentuknya Malioboro Jogja tidak lepas dari pendirian Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kala itu, sepanjang jalan lurus tersebut kerap dipenuhi dengan karangan bunga manakala pihak Kraton sedang mengadakan acara atau ritual tertentu. Itulah sebabnya jalan tersebut dijuluki nama Malioboro,dimana kata tersebut dalam bahasa Sansekerta bermakna “Karangan Bunga”.

Selanjutnya perkembangan Malioboro menjadi pusat perekonomian dan perdagangan hingga seperti sekarang didominasi oleh Kebijakan Kolonial Belanda kala itu yang sedang gencar membangun fasilitas perekonomian dan infrastruktur untuk menunjang kekuatan mereka. Hasilnya disamping adanya jalan Malioboro Jogja juga dibangunlah Stasiun Kereta Api Tugu pada tahun 1887 oleh Gubernur Belanda Staat Spoorweg.

Sementara dari sisi filosofisnya, Malioboro termasuk dalam rancangan konsep pembangunan Kota Yogyakarta yang dirancang membujur utara – selatan, serta menghasilkan jalan – jalan utama yang mengarah menuju empat penjuru mata angin dan memotong tegak lurus. Pola tersebut juga diperkuat dengan lahirnya “poros imajiner” yang membentang dari pojok utara, tegak lurus hingga pojok selatan Kasultanan Yogyakarta.

Poros Imajiner tersebut juga diwujudkan dalam bentuk bangunan fisik maupun benda alam dengan makana filosofis tertentu,yaitu :

  1. Pojok Selatan ditandai dengan adanya Laut Selatan atau kini lebih dikenal dengan Pantai Parangtritis, beberapa warga jogja memaknainya sebagai wujud air dimana air adalah awal mula asal kejadian manusia yang sebagian besar tubuhnya terdiri dari air. Di Laut Selatan ini juga terdapat legenda masyarakat setempat yaitu Nyi Roro Kidul sebagai penguasa Laut Selatan yang memiliki hubungan spiritual dengan Sang Raja.
  2. Lurus ke utara selanjutnya ada Panggung Krapyak yang difungsikan sebagai media bercengkrama dan hiburan bagi masyarakat jogja kala itu untuk menikmati berbagai pagelaran seni budaya maupun tradisi-tradisi adat keagamaan.
  3. Berikutnya ialah komplek Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dimana Sang Raja berada. Menurut pinutur warga setempat, Sri Sultan Hamengku Buwono dari pertama hingga sekarang masih memiliki ikatan spiritual tertentu dengan penguasa Laut Selatan di pojok selatan, maupun penguasa Gunung Merapi di pojok utara.
  4. Kemudian lurus lagi ke utara yaitu jalan Malioboro Jogja, yang diartikan sebagai pusat penghidupan masyarakat jogja, dimana segala jenis perdagangan ada disana untuk menghidupi kebutuhan hidup warga melalui transaksi jual beli berbagai barang dagangan.
  5. Lalu lanjut lurus ke utara ada Tugu Jogja, tugu khas berwarna putih ini merupakan icon lainnya dari Kota Jogja, disamping Kraton dan Malioboro Jogja, yang kerap difungsikan sebagai titik pertemuan untuk berbagai acara kegiatan.
  6. Terahir di bagian pojok utara yaitu Gunung Merapi dengan segala kemegahan dan kemistikannya. Menurut berbagai sumber, konon Sri Sultan kerap berkomunikasi dengan penguasa Gunung Merapi setiap kali gunung tersebut hendak menyemburkan lava panasnya.

Selain difungsikan sebagai pusat perekonomian, Malioboro Jogja oleh pihak Belanda juga digunakan sebagai pusat berbagai gedung penting diantaranya adalah Benteng Vredeburg yang dibangun pada tahun 1790, kemudian gedung Societeit Der Vereneging Djogdjakarta pada tahun 1822, Kantor Pos, gedung The Dutch Governor’s Residence pada 1830, serta Javanesche Bank demi mempertahankan posisi dan dominasi Pemerintahan Belanda di Yogyakarta.

Berkembang pesatnya pengaruh Belanda terutama di era Sultan Hamengku Buwono ke VII (1877-1921) membuat Malioboro Jogja juga terus mengeliat dari segi perekonomian. Hal ini disebabkan oleh semakin gencarnya hubungan dagang antara Pemerintahan Belanda dengan orang-orang keturunan Tionghoa. Maka jangan heran, jika di kawasan Malioboro juga terdapat kawasan pecinan yang pada awalnya adalah tanah pemberian dari Sultan kepada orang-orang pedagang tionghoa kala itu.

Berbagai Kerajinan Khas Malioboro Jogja

Kini setelah era kemerdekaan Indonesia, Malioboro Jogja bermetamorfosis menjadi obyek wisata yang wajib dikunjungi jika Anda sedang belibur ke Kota Jogja. Ada berbagai macam souvenir khas Jogja diantaranya kerajinan batik, ukiran kayu, kerajinan perak, kulit, hingga berbagai macam kaos dengan motif gambar icon khas Jogja seperta Kraton, Tugu, Gunung Merapi, Stasiun Tugu, Becak, Andong, hingga tulisan aksara jawa kuno.

Selain berbelanja souvenir, Anda juga dapat menyewa andong yang banyak terparkir di sepanjang jalan Malioboro Jogja untuk berkeliling sekitar kota jogja dengan rute Malioboro Jogja – Kraton – Tugu – lalu kembali lagi ke Malioboro Jogja. Untuk tarif yang dikenakan biasanya sang pemilik andong akan memasang harga Rp.50.000 untuk sekali jalan, namun jangan khawatir, harga tersebut dapat ditawar layaknya alat transportasi tradisional pada umumnya.

Akses Menuju Malioboro Jogja

Karena letaknya yang sangat strategis yaitu di jantung kota, Malioboro Jogja sangatlah muda untuk dijangkau bahkan jika Anda berasal dari luar kota Jogja sekalipun. Sebab darimanapun Anda berasal, cukup naik kereta dari kota setempat dengan tujuan Stasiun Tugu atau lebih dikenal dengan nama Stasiun Yogyakarta. Setelah sampai di stasiun tugu, Anda cukup berjalan kaki sejauh 50 meter kearah selatan dan sampailah di jalan Malioboro Jogja yang legendaris itu.

Sementara jika Anda menggunakan angkutan bus umum dan berhenti di Terminal Giwangan, langsung saja menaiki Bus Transjogja dengan trayek 3B atau 3A dan turun di halte Malioboro Jogja.

Nahh cukup mudah bukan akses menuju Malioboro Jogja,,, ayooo kapan lagi ke Jogjaa … ????

admin-lostatrans

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *