Keraton Ratu Boko, Situs Masa Klasik Terbesar Di Jawa Tengah Keraton Ratu Boko, Situs Masa Klasik Terbesar Di Jawa Tengah
Keraton Ratu Boko merupakan status pemukiman sebagai bukti karya unggul manusia pada periode klasik era abad VIII – IX Masehi. Secara diakronik situs keraton... Keraton Ratu Boko, Situs Masa Klasik Terbesar Di Jawa Tengah

Keraton Ratu Boko merupakan status pemukiman sebagai bukti karya unggul manusia pada periode klasik era abad VIII – IX Masehi. Secara diakronik situs keraton Ratu Boko merupakan bagian bukti dari dinamika proses penyejarahan umat manusia, salah satunya di buktikan dari data – data prasasti yang ditemukan di Keraton Ratu Boko.

Kompleks Keraton Ratu Boko terletak 2 kilometer di sebelah selatan Candi Prambanan. Berada di wilayah perbukitan yang sekarang juga di kenal dengan siva plateau. Ketinggian perbukitan tersebut kira – kira 195,97 meter di atas permukaan air laut dan letak astronominya berada di UTM zona 49. X.0443814 dan Y.9140922.

Keraton Ratu Boko

 

Luas keseluruhan situs kira – kira 160.898 meter persegi. Secara administratif, situs Keraton Ratu Boko berada di dua dusun, yaitu dusun Dawuh Sambirejo dan dusun Bokoharjo Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs Keraton Ratu Boko berada di kawasan cagar budaya Prambanan yang kaya dengan potensi peninggalan budaya baik berupa bangunan maupun benda bergerak lainnya.

Beberapa situs ataupun candi dengan latar belakang keagamaan Hindu dan Budha yang berada di kawasan situs Keraton Ratu Boko antara lain:
• Candi Barong, candi Hindu yang berada di tenggara Kompleks Keraton Ratu Boko.

Keraton Ratu Boko
• Candi Dawangsari, candi Hindu-Budha yang terletak di sebelah utara dari Candi Barong.

Keraton Ratu Boko
• Candi Banyunibo, candi Budha yang berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko, sekitar 5,6 km ke arah selatan dari Candi Prambanan.

Keraton Ratu Boko
• Candi Ijo, candi Hindu yang berada 4 kilometer arah tenggara dari Keraton Ratu Boko dan candi yang letaknya paling tinggi di Yogyakarta.

Keraton Ratu Boko
Kompleks Keraton Ratu Boko telah ada sejak jaman Kerajaan Mataram Kuno pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Di sebutkan dalam prasasti Keraton Ratu Boko yang berangka tahun 714 saka atau 792 Masehi, bahwa Rakai Panangkaran mendirikan sebuah bangunan abhayagiri vihara. Hal tersebut dapat di identifikasikan bahwa pada awalnya lingkungan Keraton Ratu Boko adalah semacam wihara atau sebuah asrama pendeta agama Budha.

Sekitar 76 tahun kemudian pada tahun 856 Masehi, di Keraton Ratu Boko terjadi pergeseran fungsi yang signifikan. Sebagai kediaman seorang penguasa yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbhayoni yang beragama Hindu. Ini diperkuat dengan adanya temuan prasasti Keraton Ratu Boko yang berangka tahun 856 Masehi yang menyebutkan tentang pendirian Lingga. Lingga adalah perwujudan dari Dewa Siwa, dewa tertinggi dalam pemujaan Trimurti dalam agama Hindu.

Berdasarkan prasasti dan bukti – bukti arkeologis dapat disimpulkan bahwa Keraton Ratu Boko merupakan situs peninggalan klasik yang mempunyai sifat keagamaan Hinduisme dan Buddhisme yang di perkirakan berlangsung cukup lama dari abad 8 sampai abad VIII – IX Masehi.

Situs Keraton Ratu Boko ditemukan kembali pertama kali oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama Van Boekholz pada tahun 1790. Upaya penelitian awal yang mengacu pada usaha pemugaran di mulai pada tahun 1938 di lakukan oleh Frederik David Kan Bosch, Nicolaas Johannes Krom dan Willem Frederik Stutterheim.

Keraton Ratu Boko

Penelitian intensif tersebut di lakukan secara terus menerus dan berlangsung hingga tahun 1973. Semula di lakukan oleh orang – orang Belanda dan selanjutnya di lakukan oleh ahli – ahli orang Indonesia sampai sekarang.

Keraton Ratu Boko

Meskipun demikian, hingga sekarang masih banyak misteri yang belum dapat di ungkap tentang keberadaan Keraton Ratu Boko, terutama tentang siapa yang membangun pemukiman dan berapa lama pemukiman itu di huni.

Menurut karakternya, bangunan – bangunan di situs Keraton Ratu Boko dapat di kelompokkan menjadi beberapa jenis, antara lain:

Jenis Gapura/Pintu Gerbang

Bangunannya berada di bagian depan maupun di dalam kompleks situs. Berdasarkan sisa – sisa bangunannya, gapura di Keraton Ratu Boko beratap paduraksa (bangunan berbentuk gapura/pintu gerbang yang memiliki atap penutup) dan atap candi yang terdiri dari tiga tingkatan yang semakin atas semakin kecil ukurannya dan di puncaknya dibuat sebuah ratna yang terbuat dari batu andesit.

Gapura utama/gerbang dalam terdiri dari lima paduraksa sedangkan gapura luar terdiri dari tiga paduraksa berjejer dan berukuran lebih kecil dari gapura utama.

Keraton Ratu Boko

Keraton Ratu Boko

Pagar

Berupa susunan batu yang bagian atasnya terdapat hiasan dalam pola tertentu. Pagar ini merupakan dinding pembatas antara ruang satu dengan ruang yang lainnya dan sebagai penghubung antar ruang yang dilengkapi akses dengan gapura/gerbang.

Keraton Ratu Boko
Talud

Terdiri dari susunan batu yang terdapat di tebing – tebing sebagai perekayasaan lahan untuk menahan tanah agar tidak longsor dan dapat stabil. Di situs Keraton Ratu Boko keberadaan talud ini di buat karena lokasinya berada di perbukitan dengan permukaan tanah yang tidak rata.

Keraton Ratu Boko
Sisa – Sisa Lantai Suatu Bangunan

Struktur bangunan diatasnya di indikasikan dengan material kayu. Sisa – sisa lantai disebut dengan:

  • Paseban, yang terdiri dari dua buah batur, talud dan pagar paseban. Diperkirakan berfungsi sebagai bangsal atau tempat menunggu sebelum menghadap raja.

Keraton Ratu Boko

  • Pendopo, terdiri dari batur dan pringgitan yang dikelilingi pagar batu dengan tiga gapura sebagai pintu masuk terletak di sebelah tenggara paseban yang berfungsi sebagai ruang publik, tempat menghadap atau tempat bertemunya rakyat dengan raja.

Keraton Ratu Boko

Bangunan Candi

Terdiri dari:

  • Miniatur Candi, yang dikelilingi teras – teras segi empat yang berada di dekat pendopo.

Keraton Ratu Boko

  • Candi Pembakaran. Berdasarkan penemuan abu yang terdapat di sumuran candi, masyarakat beranggapan bahwa bangunan ini pada masa lampau menjadi tempat pembakaran atau penyimpanan abu jenazah raja. Karakteristik bangunannya berupa batur dengan dua teras dan struktur tatanan batu andesit. Pada bagian tengah terdapat lubang semacam sumuran berukuran 4 x 4 meter yang bagian dindingnya terbuat dari susunan batu andesit. Candi Pembakaran terletak di timur laut gapura utama.

Keraton Ratu Boko

Kolam

Diperkirakan sebagai tempat pemandian raja, ratu dan keluarganya. Terletak di sebelah timur pendopo dan terdiri dari dua bagian:

  • Kolam di bagian utara terdiri dari kolam berbentuk persegi panjang berjumlah 7 buah. 5 buah kolam besar yang dalam dan 2 buah kolam berukuran kecil dan dangkal.
  • Kolam di bagian selatan berjumlah 28 buah kolam. 14 buah kolam berukuran besar berbentuk bundar. 13 buah kolam kecil dengan bentuk bundar dan 1 buah kolam berbentuk segi empat dengan ukuran kecil.

Keraton Ratu Boko

Gua Wadon dan Gua Lanang

Letak kedua gua tersebut dipahatkan di dalam dinding batu cadas dengan arah menghadap ke selatan. Gua Wadon berada di bagian depan dengan karakteristik bangunan di atas pintu gua terdapat semacam relief yang menggambarkan Yoni. Yoni dalam agama Hindu adalah simbol perwujudan Dewi Durga yang merupakan shakti Dewa Siwa atau sebuah penggambaran seorang wanita.

Keraton Ratu Boko

Gua Wadon dan Gua Lanang masing – masing bertinggi 1,5 meter, untuk menuju ke lokasi di lengkapi dengan tangga yang terbuat dari batu cadas. Berdasarkan identifikasinya, dua gua ini di gunakan sebagai tempat untuk melakukan semedi atau kontemplasi pada saat itu.

Keputren

Terdapat di sebelah timur dari komplek kolam pemandian, merupakan tempat kediaman para puteri raja atau bangsawan keraton.

Keraton Ratu Boko

Situs Keraton Ratu Boko adalah satu – satunya situs pemukiman masa klasik terbesar yang di temukan di Jawa khususnya Jawa Tengah serta memiliki dua unsur keagamaan Hinduisme dan Buddhisme. Berdasarkan peninggalan yang ada dapat di intepretasikan bahwa masyarakat dahulu sudah memiliki pengetahuan tinggi tentang upaya rekayasa lahan, teknologi tradisional, manajemen irigasi dan perencanaan tata guna serta pemanfaatan ruangnya.

Candi Ratu Boko adalah salah satu destinasi dari rangkaian perjalanan Paket Wisata Jogja 3 Hari 2 Malam “Telung Ndino Plesir Nang Jogja” yang kami peruntukkan bagi Anda. Untuk informasi lebih lanjut, silakan

candi prambanan jogja

admin-lostatrans

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *