Gudeg Pawon, Gudeg “paling enak” di Jogja Gudeg Pawon, Gudeg “paling enak” di Jogja
Gudeg Pawon – Sebagai penyandang Kota Gudeg, Jogja selalu siap menjamu kapanpun Anda ingin menjajal gudeg. Jika pagi buta, mampirlah di kawasan Jl. Malioboro... Gudeg Pawon, Gudeg “paling enak” di Jogja

Gudeg Pawon – Sebagai penyandang Kota Gudeg, Jogja selalu siap menjamu kapanpun Anda ingin menjajal gudeg. Jika pagi buta, mampirlah di kawasan Jl. Malioboro yang sudah penuh dengan penjaja gudeg. Siang hari, tengok daerah Plengkung Wijilan yang terkenal dengan penjual gudeg keringnya. Nah bagaimana jika justru tengah malam perut mulai keroncongan ? Maka Gudeg Pawon adalah solusi terbaik untuk memanjakan lidah Anda.

Spesialis Gudeg Tengah Malam

Berbeda dengan warung gudeg pada umumnya, Gudeg Pawon justru dibuka untuk pengunjung dimulai pada pukul 22.00 WIB. Bagi yang belum pernah mampir, mungkin akan mengalami kesulitan menemukan Gudeg Pawon yang memang tidak ada papan petunjuk penanda warung, serta letaknya yang memang berada di tengah pemukimam penduduk yaitu di Jl. Janturan no 36-38, Warungboto, Umbulharjo, Jogja.

Namun jika sudah mendekati alamat tersebut, Tanya saja warga setempat dimana lokasi Gudeg Pawon atau anda bisa mencari lewat smartphone anda dan dapat dipastikan semua orang mengetahui gudeg yang pertama kali dirintis oleh Mbah Prapto Widarso yang kini berusia hampir 75 tahun. Kini karena Gudeg Pawon semakin rame oleh pengunjung, Mbah Prapto juga dibantu oleh beberapa keluarganya dalam mengelola warungnya tersebut.

Sesuai dengan julukannya, Pawon yang berarti dapur, Gudeg Pawon memang menawarkan sensasi berbeda yaitu menikmati gudeg di dapurnya langsung. Di dapur yang berukuran 6 x 4 meter dengan dindingnya yang sudah mulai menghitam karena kepulan asap itulah para pengnjung dapat langsung memesan dan menikmati lezat dan gurihnya Gudeg Pawon.

Di dalam ruangan dapur tersebut, terdapat tiga tungku dengan dua tungku tetap dibiarkan terus menyala, yaitu satu tungku untuk memasak dan menghangatkan nasi, dan tungku kedua adalah untuk menghangatkan telur yang dimasak santan khas masakan gudeg. Panci dan kuali berukuran besar juga diletakkan tidak jauh dari lokasi tungku. Di sebelah pawon juga terdapat kompor minyak tanah untuk terus menjaga agar opor ayam yang disediakan tetap hangat.

Ketika pengunjung memesan, maka anggota keluarga Mbah Prapto tersebut akan langsung mengambil piring serta menaruh seporsi nasi yang hangat dan pulen, lalu membubuhkan sayur gudeg basah yang gurih dan tidak terlalu manis seperti umumnya gudeg kering. Setelah itu barulah ditambahkan lauk diatasnya sesuai keinginan pelanggan. Lauk yang ditawarkan antara lain adalah sambal krecek, opor ayam, tahu tempe, serta telur bulat santan.

Menjadi Usaha Keluarga

Cerita berawal di tahun 1958, ketika itu Mbah Prapto muda kerap menjual masakan gudegnya di Pasar Sentul Jogja sekitar jam 03.00 dini hari. Karena rasanya yang gurih dan khas, Gudeg Mbah Prapto selalu ditunggu kedatangannya oleh pelanggan, dan kerap langsung habis sesaat dirinya tiba di pasar Sentul tersebut. Bahkan mulai banyak pelanggan yang datang sendiri ke rumah untuk langsung menikmati Gudeg.

Karena semakin banyaknya pelangan yang langsung kerumah untuk menyantap gudeg langsung di pawon Mbah Prapto dan kerap habis sebelum berangkat ke Pasar Sentul, maka sejak tahun 2000, Mbah Prapto memutuskan untuk menjual gudegnya di dapur rumahnya saja, tanpa menjualnya ke Pasar Sentul, Jogja.

Anak Kedua Mbah Prapto, Sumarwanto (50) bercerita bahwa proses pembuatan Gudeg pawon dimulai jam 09.00 pagi. Seluruh anggota keluarga besar Mbah Prapto ikut terlibat dalam proses pencacahan 15 kg nangka muda sebagai bahan utama gudeg, telur ayam 200 butir, 15 ekor ayam kampung, serta berbagai bahan lauk seperti tahu, tempe, krecek, kelapa hingga gula merah.

Sekitar jam 17.00, semua aktivitas pembuatan Gudeg Pawon mulai dihentikan untuk memberikan jeda waktu istirahat. Baru sekitar pukul 21.00, kegiatan kembali dimulai hingga pukul 22.30 biasanya Gudeg Pawon sudah mulai meladeni para pengunjung yang kerap mengantri sebelum warung tersebut dibuka.

Sumarwanto berujar tidak pernah mencacat dengan detail berapa porsi Gudeg Pawon berhasil menjual setiap harinya. Namun yang jelas, setiap harinya Gudeg Pawon yang mulai dibuka pukul 23.00 dan ludes pada pukul 01.30 tersebut menghabiskan 200 butir telor ayam, 15 ekor ayam kampung sebagai lauk utamanya. “Ya kalo di kira-kira ya 350 an porsi lah mas”, begitu kata Sumarwanto kalem.

Maka tak mengherankan, Gudeg Pawon tersebut juga menjadi “dapur ngebul” nya keluarga besar Mbah Prapto Widarso. Bahkan salah satu keponakan dari Mbah Prapto juga turut kecipratan rejeki dengan cara menjual wedang uwuh dan ada juga aneka minuman lainnya bagi para pengunjung yang sedang menikmati gudeg basah nan gurih di pawon dengan suasana yang hangat tersebut.

Kini bagi Anda yang kerap lapar tengah malam atau ingin berwisata kuliner malam jogja serta ingin merasakan sensasi kehangatan dan keakraban dari makan gudeg gurih di dapurnya langsung, jangan ragu untuk segera mampir ke Gudeg Pawon sebelum kehabisan. Tunggu apalagi buat penikmat kuliner nusantara luangkan waktu anda, buat liburan anda mengesankan di Jogja.

 

admin-lostatrans

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *